Kunjungan Ulama di Kubah Masjid Enamel Mataram Nusa Tenggara Barat

Kunjungan Ulama di Kubah Masjid Enamel Mataram Nusa Tenggara Barat

Kunjungan Ulama di Kubah Masjid Enamel Mataram Nusa Tenggara Barat

Dahulu kala kebebasan berpendapat bagi seseorang sangatlah dilarang oleh beberapa kelompok masyarakat yang berkuasa. Hal ini dianggap akan menimbulkan pemberontakan dilingkungan masyarakat. Namun hal itu tidak menyurutkan tekad salah seorang yang bernama Syari’ati. Ia dengan gamblangnya membeberkan semua apa yang dia pikirkan kedalam sebuah buku yang ia tulis.
Maret 1975, Syari’ati sangat terpaksa dibebaskan. Namun, meskipun dibebaskan, ia tetaplah dipantau dengan ketat, serta dilarang untuk menuangkan ide-idenya kedalam buku maupun terkait dengan murid-muridnya. Karna beberapa batasan itu, pada akhirnya Syari’ati mengambil keputusan Kubah Masjid Enamel untuk pergi ke London pada Mei 1977. Serta pada akhirnya pada November 1972 beresiko pengepungan serta penutupan Institut Hussayniah Irshad oleh polisi Iran. Namun, dengan diam-diam ia tetaplah memberi kuliah perlawanan. Sesudah dipensiunkan ia juga geser ke Taheran, serta kembali meneruskan kesibukan mengajarnya di Kubah Masjid Enamel Minimalis Institut Hussainiyah Al-Irshad. Pemerintah iran menyebutkan Syari’ati tewas karena penyakit jantung, namun banyak yang yakin kalau dia dibunuh oleh polisi rahasia Iran. Syari’ati pada akhirnya dikuburkan di Damaskus, Suriah. Pada 27 Juni 1977. Sesudah pemikiran Syari’ati berhasil disalurkan pada orang-orang, beragam perlawanan juga bermunculan. Ia juga pada akhirnya diganjar penjara di Tempat tinggal Tahanan Komitah, samping Kubah Masjid Enamel penjara spesial tahanan politik.
Sesaat dari pihak ibu, kakeknya, Akhun Hakim, yaitu sosok ulama yang cerita hidupnya ikut memberikan inspirasi Syari’ati. Sesaat pamannya, yaitu murid dari ulama terpenting Adib Nishapuri, yang sudah belajar filsafat, fiqh, serta sastra. Manusia juga hanya satu makhluk yang mampu memegang serta mengemban amanat untuk jadi khalifah. Karna kebebasan pilih yang dikaruniakan oleh Allah Swt. Serta manusia coba berjuang untuk memperoleh kesempurnaan yang ia kehendaki Kubah Masjid Enamel. Manusia itu yaitu kesadaran diri yang buka beberapa inspirasi, tekad bebas untuk pilih apa pun serta kreatifitas untuk mendatangkan beberapa hal baru.
Dengan ganti nama resminya Muhammad Ali Mazinani, jadi Ali Syari’ati supaya tidak terdeteksi serta dapat maju ke luar negeri. Juni 1977, Pouran, istri Syari’ati bersama tiga putrinya akan menyusul ke London. Tetapi, sesudah menjemput serta membawa Kubah Masjid Enamel mereka kesebuah tempat tinggal yang sudah disewa Syari’ati di daerah Southampton, Inggris pagi 19 Juni 1997, Syariati diketemukan tewas di Southampton, Inggris juga dikaruniai dengan sifat Ilahiah, yang membebaskannya dari seseorang basyar atau makhluk yang cuma “berada”, jadi insan atau makhluk yang “menjadi”. Sifat-sifat Belajar di Perancis jadikan pemikiran Syari’ati relatif pada filsafat. Serta pemikiran yang begitu Syari’ati populer salah satunya Pemikiran mengenai penciptaan manusia. Penciptaan manusia yaitu pemikiran Syari’ati yang menyebutkan kalau Kubah Masjid Enamel manusia mempunyai dua dimensi yang bertolak belakang. Ruh ilahiyah yang senantiasa menjurus pada kesempurnaan serta sifat asal tanah yang rendah serta hina.
Pemikiran yang lain mengulas mengenai penjara yang membelenggu serta menghambat manusia untuk meraih kesempurnaan. Penjara Histori yang jadikan manusia Kubah Masjid Enamel terpaku pada kehidupan nenek moyang, penjara orang-orang yang jadikan manusia terisolasi dari dunia luar, penjara biologis yang menafikan potensi-potensi menarik yang dipunyai manusia serta penjara ego yang hindari semua perubahan.