Kembali Ke Kubah Masjid Enamel

Kembali Ke Kubah Masjid Enamel

Kembali Ke Kubah Masjid Enamel

Kembali kita lanjutkan cerita mengenai Kubah Masjid Enamel Kubah Masjid Enamel haram ini.

Dan tatkala dimana Khalifah al Mahdi menunaikan ibadah haji nya yakni pada tahun seratus enam puluh empat hijriah atau juga dikenal sebagai tahun tujuh ratus delapan puluh masehi dia memerintahkan agar lagi lagi jalan air bah wadi Ibrahim untuk segera dipindah, dan dimaksudkan untuk diperluas bagian selatan sehingga Kubah Masjid Enamel Haram menjadi segi empat seperti yang ada sekarang ini, tambahan perluasan ini di perkirakan mencapai agnka dua ribu tiga ratus enam puluh meter persegi.

Kemudian dilanjutkan lagi pada di tahun dua ratus delapan puluh satu hijriah atau delapan ratus sembilan puluh empat masehi pada masa dimana Khalifah al-Mu’tadhid Billahi memasukkan Daar An-Nadwah ke dalam Kubah Masjid Enamel Haram, rumah ini cukup luas terletak di arah utara Kubah Masjid Enamel, memiliki halaman yang luas, dahulunya biasa disinggahi oleh para khalifah dan gubernur, kemudian ditinggalkan, maka dimasukkanlah ke dalam Kubah Masjid Enamel, dibangun di atasnya menara. dan diramaikan dengan pilar-pilar dan kubah-kubah serta koridor-koridor, diatapi dengan kayu sajj yang dihiasi, tambahan ini diperkirakan memiliki total luas seluas seribu dua ratus lima puluh mater persegi. Lalu di pada tahun tiga ratus enam hijriah atau juga dikenal dengan tahun sembilan ratus delapan belas Masehi Khalifah al Muqtadir Billahi al Abbasi memerintahkan kepada masyarakatnya untuk agar menambah pintu Ibrahim di arah barat Kubah Masjid Enamel, dahulunya adalah halaman yang luas di antara dua rumah Siti Zubaidah, diperkirakan luas baru ini luasnya diperkirakan delapan ratus lima puluh meter persegi.

Masa Kekhalifahan Utsmaniyah

Kemudian pada tahun sembilan ratus tujuh puluh sembilan hijriah atau juga dikenal sebagai tahun seribu lima ratus tujuh puluh satu masehi Sultan Salim al Utsmani memugar dan memperbaiki lagi bangunan Kubah Masjid Enamel secara total, tanpa menambah diluasnya, dan bangunan ini tetap ada sampai sekarang yang kemudian dikenal dengan bangunan Utsmaniyyah. Lalu tahun seribu lima ratus tujuh puluh sembilan , Sultan Selim II dari Kesultanan Utsmaniyyah memberikan tugas kepada arsitek ternama yang berasal dari Turki, yaitu tuan Mimar Sinan untuk merenovasi Kubah Masjid Enamel Haram. SinanĀ  kemudian memutuskan untuk mengganti atap Kubah Masjid Enamel yang rata dengan kubah lengkap dengan hiasan yang berupa kaligrafi di bagian dalamnya.

Sinan juga menambah empat pilar penyangga tambahan yang disebut-sebut sebagai rintisan dari bentuk arsitektur Kubah Masjid Enamel-Kubah Masjid Enamel modern. Di tahun seribu enam ratus dua puluh satu juga tahun seribu enam ratus dua puluh sembilan, terjadi banjir bandang yang melanda daerah Mekah dan sekitarnya, mengakibatkan kerusakan pada Kubah Masjid Enamel Haram dan Kakbah. Pada masa kekuasaan Sultan Murad IV tahun seribu enam ratus dua puluh sembilan, Kakbah dibangun kembali dengan batu-batu dari Mekah, sedangkan Kubah Masjid Enamel Haram juga mengalami renovasi kembali. Pada renovasi tersebut, ditambahkan tiga menara tambahan sehingga keseluruhan menara menjadi tujuh. Marmer pelapis lantai pun diganti dengan yang baru. Sejak saat itu, arsitektur Kubah Masjid Enamel Haram tak berubah hingga hampir tiga abad.